Demo Bea Cukai Gagal, Himpunan Petani Tembakau Madura Diduga Korbankan Korlap Aksi
- account_circle Fiki
- calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
- visibility 198
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PAMEKASAN – jatimone.com – Rencana aksi unjuk rasa besar-besaran ke Kantor Bea Cukai Madura yang digagas oleh Himpunan Petani Tembakau Madura (HPTM) dikabarkan batal terlaksana pada Rabu (8/10/2025). Aksi yang sedianya digelar pukul 10.00 WIB itu berubah menjadi audiensi pada pukul 14.00 WIB di Kantor Bea Cukai Madura.
Usai audiensi, salah satu koordinator lapangan aksi, Zaini Werwer, menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Bea Cukai Madura yang dinilai telah banyak membantu pengusaha rokok lokal, khususnya skala kecil dan menengah di wilayah Pamekasan dan sekitarnya.
“Selama ini banyak yang menilai Bea Cukai hanya menindak, padahal faktanya mereka juga banyak membantu. Mulai dari pembinaan, edukasi cukai, hingga pendampingan legalitas bagi pabrik rokok kecil. Itu perlu diakui,” ujar Zaini Werwer, Kamis (9/10/2025).
Menurut Zaini, selama dua tahun terakhir, berbagai program pendampingan, sosialisasi, hingga fasilitasi perizinan yang dilakukan Bea Cukai Madura telah memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan industri rokok lokal di Madura.
Ia menilai, hubungan harmonis antara Bea Cukai dan pelaku usaha rokok harus terus dijaga melalui pendekatan persuasif, bukan represif.
“Kalau pendekatannya humanis, hasilnya jauh lebih baik. Banyak pengusaha kecil sekarang sudah memiliki izin dan bisa berproduksi secara legal. Itu berkat komunikasi yang baik antara Bea Cukai dan pengusaha,” tambahnya.
Lebih lanjut, Zaini mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu negatif terkait Bea Cukai. Ia menegaskan bahwa pembangunan industri rokok Madura membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat.
“Kita harus jujur, kemajuan pengusaha lokal juga karena ada peran pemerintah, termasuk Bea Cukai. Kalau hanya mengandalkan demo dan tekanan, justru bisa mematikan usaha kecil,” tegasnya.
Namun, di balik batalnya aksi tersebut, muncul isu internal yang memanas di tubuh HPTM. Zaini mengaku kecewa karena sejumlah pihak diduga “mengorbankan” sebagian korlap aksi yang selama ini vokal memperjuangkan nasib petani tembakau.
“Bukan gagal, tapi dibatalkan secara sepihak oleh oknum dari internal HPTM. Kami sudah selidiki dan alhamdulillah dalangnya sudah diketahui. Kami merasa dipermainkan, citra kami dirusak, dan petani kehilangan arah perjuangan,” ungkap mantan aktivis GMNI itu.
Zaini menyebut pembatalan aksi diduga terkait adanya perbedaan kepentingan dan komunikasi yang tidak sejalan di internal organisasi.
“Kami sudah siap turun, tapi tiba-tiba dibatalkan. Katanya ada tekanan dan negosiasi di balik layar,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia menilai, kegagalan aksi tersebut menjadi bukti melemahnya solidaritas antar kelompok perjuangan rakyat kecil.
“Ketika saya yang selama ini jadi suara petani justru disingkirkan, berarti perjuangan mulai kehilangan arah. Jangan sampai kepentingan pribadi menenggelamkan suara rakyat,” ucapnya.
Meski demikian, Zaini menegaskan perjuangan membela petani tembakau tidak berhenti di sini. Ia memastikan aksi lanjutan akan disusun kembali dengan barisan yang lebih solid tanpa campur tangan pihak luar yang dinilai tidak konsisten.
“Perjuangan ini akan kami lanjutkan bersama petani sejati, bukan dengan mereka yang hanya mencari kepentingan pribadi,” pungkasnya.
- Penulis: Fiki
- Editor: Rosi
