Tradisi Karapan Sapi Hias di Desa Langsar: Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan
- account_circle Ahbib
- calendar_month Sabtu, 13 Sep 2025
- visibility 127
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sumenep – Jatimone.com – Sebanyak 40 pasang sapi meramaikan ajang Karapan Sapi Hias atau yang dikenal dengan sebutan Sapi Tangghek di Desa Langsar, Kampung Cemmanis, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Sabtu (13/9/2025). Acara adat ini digelar sebagai bentuk nadar sekaligus hiburan rakyat, dan telah menjadi momentum tahunan yang melekat dalam budaya masyarakat setempat.
Pembukaan resmi dilakukan oleh tuan rumah, Saleh, yang juga menurunkan sapi kebanggaannya bernama Raksah Salapangan dengan nomor keleles 1. Suasana semakin meriah dengan iringan tarian tradisional dan musik khas Madura, saronen, yang menggema di tengah antusiasme masyarakat.
“Peserta kali ini datang dari lima desa, yakni Desa Topote, Tanjung, De’dek Temur, Tana Mira, dan De’dek Berek,” ujar Musder, selaku panitia penyelenggara. Ia menambahkan, jalannya acara berlangsung tertib, di mana sapi-sapi dilepas dari arah timur ke barat dengan diiringi musik tradisional sebelum satu per satu dilombakan.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyediakan hadiah berupa sarung BHS atau samper, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta.
Kepala Desa Langsar, Didik Supriono, menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, termasuk Himpunan Mahasiswa Peternakan Universitas Madura (Unira).
“Tradisi ini sudah menjadi identitas adat kami. Harapan saya, anak muda dan dunia pendidikan ikut menjaga serta melestarikannya. Apalagi di Madura, hanya Universitas Madura yang memiliki jurusan peternakan, sehingga ini menjadi kesempatan besar bagi generasi muda untuk menyentuh tradisi dengan sentuhan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Himpunan Mahasiswa Peternakan (Himapet) Unira, Rozak, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung budaya lokal.
“Kami berpartisipasi dalam kegiatan turun lapang untuk sosialisasi budaya Madura melalui karapan sapi hias ini. Harapan kami, tradisi Sapi Tangghek semakin dikenal luas, diminati generasi muda, dan tidak punah,” ucapnya.
Karapan Sapi Hias di Desa Langsar sendiri rutin digelar tiga kali dalam setahun, dan selalu menjadi momentum yang ditunggu-tunggu masyarakat. Selain melestarikan budaya, acara ini juga mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus memperkuat identitas budaya Madura.
- Penulis: Ahbib
- Editor: Rosi
