LP3M Soroti Peran Tembakau dan Industri Rokok Lokal bagi Ekonomi Masyarakat Madura
- account_circle Rosi
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 138
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PAMEKASAN, Jatimone.com — Ketua Lembaga Pusat Penelitian dan Pengembangan Madura (LP3M), Suroso, menilai tembakau masih menjadi komoditas andalan bagi petani di Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Menurutnya, tembakau bahkan kerap disebut sebagai “daun emas” karena mampu memberikan keuntungan besar bagi petani ketika harga jualnya tinggi.
Suroso menjelaskan, pada beberapa tahun lalu petani tembakau Madura sempat mengalami masa sulit akibat harga jual yang rendah, bahkan sebagian hasil panen tidak terserap pasar. Kondisi itu, kata dia, membuat banyak petani merugi dan terlilit utang.
“Dalam kondisi tembakau Madura yang sempat hancur dan para petani terpuruk, kemudian muncul sosok Haji Her melalui P4TM yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai penyelamat petani tembakau. Selama tiga tahun terakhir, harga tembakau cukup tinggi dan hasil panen petani dibeli dengan harga baik, sehingga petani kembali merasakan keuntungan,” ujar Suroso.
Ia menyebut, kehadiran industri rokok lokal di Madura juga membawa sejumlah manfaat bagi masyarakat. Pertama, industri tersebut dinilai mampu mendorong tingginya harga tembakau karena kebutuhan bahan baku yang besar. Hal itu, lanjutnya, memberikan keuntungan langsung bagi para petani.
Kedua, industri lokal rokok Madura disebut telah menyerap ribuan tenaga kerja dengan upah di atas UMR sehingga ikut membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Ketiga, keberadaan industri tersebut juga dinilai berkontribusi melalui berbagai program sosial, seperti bantuan untuk yatim piatu, beasiswa bagi anak kurang mampu, bedah rumah, pembangunan masjid, hingga perbaikan jalan desa.
Di tengah ramainya isu cukai rokok dan pemeriksaan terhadap Haji Her oleh KPK sebagai saksi, Suroso menilai masyarakat Madura mulai bergerak untuk memberikan dukungan. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Sikap masyarakat Madura yang membela Haji Her merupakan bentuk apresiasi atas manfaat nyata yang telah dirasakan petani dan masyarakat luas,” katanya.
Lebih lanjut, Suroso meminta pemerintah bersikap bijak dalam menyikapi persoalan cukai rokok dan keberadaan pabrik rokok lokal di Madura. Ia menilai, jika industri rokok lokal terus dipersoalkan, maka dikhawatirkan pembelian hasil panen tembakau akan terganggu dan berdampak pada petani.
“Kalau pabrik rokok Madura terus dipermasalahkan, mereka bisa berhenti membeli hasil panen tembakau. Akibatnya, petani akan merugi dan angka kemiskinan bisa meningkat. Ribuan pekerja juga bisa kehilangan pekerjaan. Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah konkret dan adil,” ujarnya.
Suroso juga mendorong adanya klasifikasi dalam penetapan cukai rokok, agar pabrik besar tidak disamakan dengan pabrik rokok pemula maupun menengah. Menurutnya, kebijakan yang proporsional akan membantu menjaga keberlangsungan industri lokal sekaligus melindungi petani tembakau.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan terhadap petani tembakau agar kualitas dan produktivitasnya terus meningkat. Pemerintah, kata dia, juga perlu memberi perlindungan kepada industri rokok lokal Madura agar dapat terus beroperasi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: Rosi
- Editor: Fiki
